Blogroll

Ruud Gullit

The Black Tulip

Robin Van Persie

The Flying Dutchman

Oliver Khan

The Der Titan

Manuel Neuer

Penerus Oliber Khan

Eid Mubarak

Selamat Merayakan Idul Fitri, mohon maaf, lahir, dan batin.

Thursday, November 2, 2023

Karir Zinédine Zidane {sebagai pemain}

 Zinédine Yazid Zidane (IPA: [ˌzineˈdin jaziːd ziˈdan]; bahasa Arab: زين الدين زيدان, lahir 23 Juni 1972), lebih dikenal sebagai Zizou, adalah seorang mantan pemain dan mantan pelatih Real Madrid yang sukses meraih tiga gelar Liga Champions berturut-turut. Dia merupakan salah satu pelatih paling sukses di dunia. Zidane secara luas dianggap sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa, dan seorang playmaker elit yang terkenal karena keanggunan, visi, operan, kontrol bola, serta tekniknya.

Sebagai pemain sepak bola kelas dunia, Zidane telah mengenyam banyak prestasi, di antaranya dua gelar Serie A bersama Juventus, satu gelar Liga Champions dan satu gelar La Liga bersama Real Madrid. Zidane juga sukses mengantar Prancis menjadi juara dunia Piala Dunia 1998 dan juara Piala Eropa 2000. Bersama sahabatnya Ronaldo, Zidane menjadi pemain sepak bola yang mampu meraih gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA sebanyak tiga kali. Ia juga pernah meraih Ballon d'Or pada tahun 1998.

Anaknya kini mengikuti jejak Zidane sebagai pemain sepak bola. Keempat anaknya bermain untuk Akademi Real Madrid. Enzo (24 Maret 1995), Theo (18 Mai 2002) dan Elyaz (26 Desember 2005) berposisi sebagai gelandang. Sedangkan Luca (13 Mai 1998) berposisi sebagai penjaga gawang.

Pada tanggal 4 Januari 2016, dalam konferensi pers yang dilakukan oleh Florentino Pérez, Zidane didaulat menjadi pelatih Real Madrid menggantikan Rafael Benítez.[1]

Perjalanan karier[sunting | sunting sumber]

Zidane dilahirkan di Marseille dan dibesarkan di La Castellane. Walaupun lahir di Marseille, Zizou belum pernah bermain untuk Olympique de Marseille. Orang tua Zidane beragama Islam, dan mereka berimigrasi dari Aljazair ke Prancis pada tahun 1954.[2]

Karier Zidane dimulai pada usia 14 tahun, anak dari imigran Aljazair ini terlihat oleh seorang pencari bakat bernama Jean Varraud dan kemudian ditawari tempat di Akademi AS Cannes. Aslinya ia hanya mendapatkan kesempatan bertahan di Cannes selama enam pekan saja, sebelum akhirnya bakat bagusnya membuat Zidane mampu mengamankan kontrak pertamanya selama empat musim. Zidane kemudian bermain di level professional pertama pada usia 17 tahun pada tahun 1991. Ia kemudian mencetak gol pertamanya pada tanggal 8 Februari 1991, yang kemudian membuatnya mendapatkan hadiah mobil dari presiden klub. Zidane kemudian berhasil mengantar Cannes masuk kompetisi Piala

UEFA di akhir musim 1991—92.

Zidane kemudian ditransfer ke Girondins de Bordeaux pada musim 1992-93, dan kemudian mengantar klub tersebut menjuarai Piala Intertoto musim 1995 dan runner-up Piala UEFA musim 1995-96. Rekannya di Bordeaux adalah Bixente Lizarazu dan Christophe Dugarry, yang kemudian kelak akan menjadi trio kuat di timnas Prancis pada Piala Dunia 1998. Pada musim 1995, pelatih Blackburn Rovers Ray Harford sempat menawarkan kontrak pada Zidane dan Dugarry, namun Zidane menolak tawaran dari klub Inggris tersebut.[3]

Pada tahun 2001 Zizou ditransfer dari klub ItaliaJuventus F.C. ke Real Madrid dengan kontrak selama 4 tahun. Biaya transfer sebesar €66 juta, membuat ia menjadi pemain sepak bola dengan transfer termahal di dunia. Ia mencetak gol kemenangan 2-1 melawan klub JermanBayer Leverkusen pada 2001-2002 Final Champions League di Glasgow di Hampden Park. Tahun berikutnya di Piala Dunia 2002 ia hanya tampil sekali membela Prancis karena didera cedera. Dalam turnamen tersebut, Prancis tidak berhasil mencetak satu golpun dan terpuruk di dasar grup pada babak pertama sehingga gagal lolos ke babak berikutnya.

Tahun 2004 setelah Piala Eropa 2004 berakhir, Zidane pensiun dari sepak bola internasional, namun saat Prancis mengalami kesulitan untuk meloloskan diri ke Piala Dunia 2006, Zidane mengumumkan pada Agustus 2005 bahwa ia akan kembali bermain di tim nasional. Prancis akhirnya lolos, tetapi Zidane yang baru melalui musim yang dipenuhi cedera di Madrid, memutuskan bahwa ia akan mundur setelah Piala Dunia tersebut berakhir.

Pada tanggal 25 April 2006, Zizou secara resmi mengumumkan keputusannya untuk mundur dari klub dan tim nasional sepak bola Prancis setelah Piala Dunia 2006.[4]

Pada tanggal 7 Mei 2006 Zizou memainkan pertandingan terakhir sebagai tuan rumah untuk Real Madrid di Stadion Santiago Bernabéu. Pemain Real Madrid memakai baju kaus khusus yang bertanda "ZIDANE 2001 - 2006" tertulis di bawah logo klub. Seperti yang dapat diduga, pendukung Real Madrid
memberikan dia sambutan yang hangat dan mendukung Zizou sepanjang pertandingan. Pertandingan ini melawan Villarreal CF dan, sayangnya untuk Zizou, hasil terbaik yang diperoleh Real Madrid adalah seri 3–3. Zizou mencetak gol kedua untuk Real Madrid tanpa perayaan besar-besaran. Zizou menukar baju kausnya dengan Juan Roman Riquelme, pemain Villarreal CF dan gelandang Argentina. Pada akhir pertandingan, pendukung Real Madrid mengucapkan selamat jalan untuk Zizou dengan memberi ia tepuk tangan panjang, yang membuatnya menitikkan air mata.

Piala Dunia 2006[sunting | sunting sumber]

Pada dua pertandingan awal Piala Dunia 2006, ia tampil buruk dan bahkan harus absen pada pertandingan ketiga akibat akumulasi kartu kuning. Zidane kemudian menunjukkan kembali permainan terbaiknya di babak-babak berikutnya, dimulai dari pertandingan melawan Spanyol digugurkan 3–1, lalu Brasil ditaklukkan 1–0, dan kemudian Portugal dikalahkan 1–0. Dengan bentuk permainannya saat itu, banyak yang berharap bahwa Zidane akan menggantung sepatu dengan indah dengan mengalahkan Italia pada pertandingan final, namun kariernya berakhir pahit saat ia dikartu merah wasit Horacio Elizondo pada pertandingan final akibat menanduk bek Italia, Marco Materazzi di bagian dada.

Walaupun karier sepak bolanya berakhir pahit Zidane terpilih sebagai pemain terbaik Piala
Dunia 2006 versi FIFA dan para wartawan yang meliput ajang tersebut dengan mendapat 2012 poin, kapten Italia Fabio Cannavaro di posisi dua dengan 1977 poin, dan pemain Italia lainnya, Andrea Pirlo di posisi tiga dengan 715 poin. Alasan ia dipilih menjadi pemain terbaik karena berhasil menampilkan penampilan yang menawan serta menunjukkan kepemimpinan yang baik dalam membawa Prancis yang terseok-seok di babak penyisihan grup sampai ke babak final. Pelatih Prancis Domenech dan sang "Kaisar" Beckenbauer membela keputusan FIFA untuk tetap memberikan gelar tersebut meskipun Zizou dianggap melakukan tindakan bodoh tersebut terhadap Materazzi. Materazzi mungkin dianggap mengatakan kata-kata yang sangat menyinggung pemain terbaik dunia 3 kali tersebut sehingga membuat ia menjadi emosi dan akhirnya melakukan tindakan tersebut.

Menurut laporan BBC, pemilihan Pemain Terbaik dilakukan pada masa istirahat setelah babak pertama. Koresponden BBC, Gordon Farquhar, berpendapat bahwa "jika kita menanyakan kepada para wartawan yang telah melakukan pemilihan tersebut setelah pertandingan berakhir - apakah mereka akan mengubah suaranya - mungkin mereka akan melakukannya".[5]

Lagu berjudul Headbutt yang terinspirasi dari serudukan kepala Zinedine Zidane ke dada Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006 menjadi lagu yang paling terkenal di Prancis. Dalam dua setengah pekan awal, ada 80.000 pengunduh lagu tersebut di situs.

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Zin%C3%A9dine_Zidane

Karir Edwin Van der Sar

Edwin van der Sar, lahir pada 29 Oktober 1970 di Voorhout, Belanda, adalah salah satu penjaga gawang terkemuka dalam sejarah sepak bola. Karier panjang dan suksesnya mencakup prestasi di tingkat klub dan internasional.

Van der Sar memulai karier sepak bolanya di klub Belanda, Ajax, pada tahun 1990. Pada musim-musim awalnya, bakatnya sebagai penjaga gawang mulai mencuri perhatian. Ia membantu Ajax meraih gelar Eredivisie dan Piala KNVB dalam beberapa musim pertamanya.

*Manchester United:*

Pada tahun 1999, Van der Sar pindah ke Manchester United, di mana ia menjadi bagian integral dari kesuksesan klub. Bersama United, ia meraih beberapa gelar Liga Inggris dan tampil dalam final Liga Champions UEFA 2008, membantu timnya meraih trofi prestisius tersebut.


*Pensiun Sementara dan Kembali:*

Setelah meninggalkan Manchester United pada 2011, Van der Sar mengumumkan pensiun dari sepak bola profesional. Namun, pada 2016, ia membuat kembali comeback yang mengejutkan dengan bergabung dengan tim amatir VV Noordwijk dalam pertandingan kompetitif.


*Prestasi Internasional:*

Van der Sar juga memiliki warisan yang cemerlang di tingkat internasional. Ia mewakili Belanda dalam beberapa turnamen besar, termasuk Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa. Penampilannya yang tahan banting dan konsisten membuatnya diakui sebagai salah satu penjaga gawang terbaik di dunia.


*Penghargaan dan Pengakuan:*

Karier van der Sar diberkahi dengan sejumlah penghargaan individu. Ia meraih Penghargaan Penjaga Gawang Terbaik UEFA dan Penghargaan Penjaga Gawang Terbaik FIFPro World XI beberapa kali selama kariernya.


*Kepemimpinan dan Warisan:*

Selain kemampuannya sebagai penjaga gawang, Van der Sar dikenal karena kepemimpinannya. Setelah pensiun, ia melanjutkan karier di dunia manajemen dan saat ini menjabat sebagai CEO di Ajax. Warisannya tidak hanya dalam prestasi di lapangan

Edwin van der Sar adalah contoh sempurna dari seorang atlet yang tidak hanya mencapai kesuksesan besar dalam karier bermainnya tetapi juga memberikan dampak positif pada olahraga yang dicintainya.

Wednesday, November 1, 2023

Johan Cruyff

Johan Cruyff, seorang legenda sepak bola Belanda, tidak hanya dikenal sebagai pemain yang brilian tetapi juga sebagai pelatih dan tokoh sepak bola yang berpengaruh. Dengan karir yang cemerlang di atas dan di luar lapangan, Cruyff telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah olahraga yang penuh gairah ini.

**1. Pemain Muda yang Berkilau**

Johan Cruyff lahir pada 25 April 1947, di Amsterdam, Belanda. Dia memulai karir profesionalnya dengan Ajax Amsterdam pada tahun 1964, dan segera menarik perhatian dengan teknik dan visi permainannya yang luar biasa. Cruyff membantu Ajax meraih tiga gelar Eropa berturut-turut antara 1971 dan 1973, dan pada tahun 1974, dia memimpin Belanda mencapai final Piala Dunia FIFA.

**2. Total Football: Gaya Bermain Revolusioner**

Prestasi terbesar Cruyff sebagai pemain mungkin adalah kontribusinya terhadap konsep "Total Football." Bersama dengan pelatih Rinus Michels, Cruyff membawa revolusi dalam gaya bermain sepak bola, dengan pemain yang mampu berpindah posisi dan memahami peran satu sama lain. Hal ini membantu Ajax meraih sukses besar dan menjadi cikal bakal bagi gaya bermain modern.

**3. Perjalanan Internasional sebagai Pemain dan Pelatih**

Setelah sukses bersama Ajax, Cruyff melanjutkan karirnya di Barcelona pada tahun 1973, dan kembali membuat sejarah dengan memenangkan gelar La Liga pertamanya bersama klub Catalan tersebut. Kemudian, setelah pensiun sebagai pemain, Cruyff kembali ke Barcelona sebagai pelatih pada awal 1990-an dan membawa klub itu meraih sukses yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk meraih gelar Liga Champions pada tahun 1992.

**4. Warisan di Lapangan dan Pinggir Lapangan**

Selain prestasi di lapangan, Cruyff dikenal karena kepemimpinan dan pemikiran taktisnya. Konsep filosofis sepak bolanya dan pendekatannya yang inovatif terhadap manajemen klub membuatnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia sepak bola. Dia mendirikan Akademi Johan Cruyff untuk mengajarkan filsafat sepak bolanya kepada generasi muda.

**5. Pengakuan dan Pujian Dunia Sepak Bola**

Penghargaan pun tak pernah lepas dari sosok Cruyff. Ia memenangkan Penghargaan Pemain Terbaik Eropa sebanyak tiga kali dan diakui sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Pengaruhnya meluas hingga dunia manajerial, di mana dirinya mendapat penghargaan FIFA Coach of the Century pada tahun 1999.

**Penutup: Warisan yang Abadi**

Johan Cruyff, dengan karir cemerlangnya sebagai pemain dan pelatih, telah meninggalkan warisan yang abadi di dunia sepak bola. Gaya bermain revolusionernya dan kontribusinya dalam mengubah cara sepak bola dimainkan membuatnya menjadi ikon, tidak hanya di Belanda tetapi di seluruh dunia. Sebagai pemimpin dan inspirator, Cruyff tetap hidup dalam fondasi yang ia bangun untuk generasi sepak bola yang akan datang.